Al Abidin

TKII AL aBIDIN

SDII Al Abidin

SMPI Al Abidin

SMA ABBS Surakarta

S

c

h

o

o

l

s

Contact SDII Al Abidin :(0271) 73503

Budi pekerti menjadi karakter luhur bangsa Indonesia. Di setiap suku ada bentuk kearifan lokal yang menjadi pranata sosial dalam pergaulan masyarakat. Kearifan lokal berupa budi pekeri diwariskan dari generasi ke generasi melalui berbagai media yang berkembang seiring kemajuan masyarakatnya. Keunggulan budi pekerti itu menjadi ciri khas yang tersohor ke seantero dunia. 
Namun kearifan lokal yang sempat menjadi kebanggaan, kini menjadi barang langka. Sikap saling menghormati dan tepo seliro kini makin luntur. Akibatnya banyak terjadi kejahatan, kecurangan terjadi di berbagai tempat. Salah satu bentuk kecurangan yang kini merajalela adalah korupsi. Tanpa malu-malu lagi orang mengambil sesuatu yang bukan haknya. Asal ada kesempatan, punya kuasa, niat buruk itu terlaksana.
Organisasi Fund for Peace merilis indeks terbaru mereka mengenai Failed State Index 2012 di mana Indonesia berada di posisi 63. Sementara negara nomor 1 yang dianggap gagal adalah Somalia. Penelitian ini menggunakan indikator dan sub indikator, salah satunya indeks persepsi korupsi. Dalam penjelasan mereka, dari 182 negara, Indonesia berada di urutan 100 untuk urusan indeks korupsi tersebut. Indonesia hanya berbeda 82 dari negara paling korup berdasarkan indeks lembaga ini, Somalia.
Ternyata kerusakan moral bukan hanya hilang dari para pemegang kuasa yang notabene orang dewasa,generasi muda pun tak kalah parahnya. Hampir setiap hari terdengar berita pemerkosaan, perkelahian peredaran video mesum dan sebagainya yang membuat miris siapa pun yang membacanya. Kasus yang akhir-akhir ini sering kita saksikan beritanya di media massa adalah tentang penyalahgunaan narkotika dan zat-zat berbahaya lainnya. Coba tilik hasil survei BNN dengan Universitas Indonesia dan juga universitas lain. Tahun 2005 persentase prevelensinya 1,7 persen dari seluruh Indonesia. Lalu tahun 2008 naik menjadi 1,99 persen. Kemudian tahun 2011 menjadi 2,2 persen, dan diperkirakan hingga tahun 2015 terus naik menjadi 2,8 persen, atau sekitar 5,8 hingga 6 juta jiwa.
Apa penyebab semua ini? Jika di telaah jauh memang ada banyak sekali sebab. Dan dari sekian banyak sebab, salah satunya adalah hilangnya rasa malu, takut dan sungkan, khususnya malu takut dan sungkan berbuat yang tidak baik. Rasa malu dan takut serta sungkan ketika akan mengambil sesuatu yang bukan haknya, sudah hilang. Bahkan saat mereka sudah ketahuan. Lihat saja ekpresi mereka di media massa. Wajah mereka tidak menyiratkan malu dan bersalah meskipun sudah dijadikan sebagai tersangka sebuah kasus korupsi. Orang jawa sering mengatakan, “wong ra nduwe isin!”. Sungguh miris memang. Lantas apa yang sebaiknya masyarakat lakukan melihat kondisi ini?
Mau tidak mau masyarakat harus saling bahu membahu mengatasi kondisi yang sudah sedemikian terpuruk ini. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan langkah-langkah pencegahan pada orang-orang terdekat. Anak-anak kita harus kita ajari budi pekerti yang baik. Hal ini selaras dengan penemuan atas penelitian yang dilakukan oleh Hidred Geertz  seorang antropolog Amerika, yang ditulis dalam buku “The Javanese Family” yang ditulis pada Tahun 1982. Meskipun diteliti sudah lebih dari 30 tahun yang lalu, akan tetapi penelitian ini masih sangat relevan kita gunakan. Hasil penelitian ini salah satunya mengungkapkan tentang bagaimana cara masyarakat Jawa menanamkan budi pekerti pada anak-anaknya. Geertz (1982) mengungkapkan ada tiga hal yang ditanamkan masyarakat Jawa pada anak-anaknya dalam rangka membentuk karakter. Ketiga hal itu adalah wedi, isin, dan sungkan.
Wedi berarti takut, baik dalam arti jasmani maupun dalam arti sosial terhadap kecemasan atas akibat-akibat tidak menyenangkan dari suatu tindakan. Isin bisa diterjemahkan sebagai malu, enggan, canggung. Malu untuk melanggar aturan dan berbuat dosa. Malu untuk mencuri uang Negara. Malu kepada masyarakat yang uangnya diambil. Malu jika nantinya diri dan keluarganya akan menanggung malu. Malu jika nantinya wartawan akan menguber-ngubernya kemana-mana. Malu jika hakim mencebloskannya ke dalam sel tahanan. Sedangkan sungkan, seperti isin hanya tanpa adanya rasa takut berbuat kesalahan. Isin akan menjadi bentuk pengendalian didi dan menghindari celaan, sungkan mampu memainkan langgam sosial dengan indah.
Anak-anak jawa diajar tentang bagaimana dan bilamana harus wedi dan isin. Allah swt. wajib ditakuti bukan karena menakutkan, melainkan karena kewajiban kita berkhidmat sebagai hamba kepada penciptanya. Sang Maha Pencipta akan mengawasi dan menilai gerak-gerik hamba-Nya. Namun, disisi lain kita sebagai hamba-Nya mengharapkan penilaian terbaik sehingga menghasilkan balasan terbaik juga, yaitu sukses dunia dan akhirat. Oleh karena itu, kita pun takut melakukan hal-hal yang berbau maksiat karena akan menjauhkan kita dari kasih sayang dan pertolongan Allah swt.Mereka dipuji karena sikap yang wedi kepada orang tua dan sikapnya yang isin terhadap orang-orang yang lebih dari dirinya. Mereka pertama-tama belajar wedi sebelum merekan siap memberikan tanggapan intern yang berbeda-beda dan menyangkut harga diri  dan pengenalan yang berbeda-beda mengenai perbedaan sosial. Ketika mereka besar, isin diajukan kepadanya, pertama-tama dengan memobilisasi rekasi–reaksi wedi yang sudah terpolakan kemudian dengan memainkan harga diri yang berkembang melalui mempermalukan dengan senangnya.
Nilai-nilai kejawen mengenai rumusan ketaatan itu ditanamkan secara berangsur-angsur. Dimulai dari mengenalkan wedi, isin, dan akhirnya sungkan. Wedi berbuat jahat karena diketahui oleh Yang Maha Melihat. Isin berbuat curang karena menciderai rasa keadilan, dan sungkan melakukan hal-hal yang tidak pantas karena diketahui sesamanya.
Apabila dilaksanakan dengan baik, nilai-nilai isin, wedi dan sungkan akan membawa sikap pengendalian diri yang baik untuk tidak berbuat yang melanggar etika, curang, culas dan perbuatan tidak baik lainnya. Sudah waktunya orang tua mengajarkan isin, wedi, dan sungkan pada anak-anaknya sehingga saat  dewasa kelak mereka akan mempunyai jati diri dan tidak tergoda untuk berbuat culas. Malu dan takut menunjukkan kebaikan memang tidak baik, akan tetapi malu takut dan sungkan berbuat baik tentu menjadi hal yang sangat memprihatinkan.