Al Abidin

TKII AL aBIDIN

SDII Al Abidin

SMPI Al Abidin

SMA ABBS Surakarta

S

c

h

o

o

l

s

Contact SDII Al Abidin :(0271) 73503

Mewarnai Berkelompok

12 Desember 2015 Written by

Aktifitas mewarnai lazimnya dilakukan sendiri. karena ia bebas untuk mengekspresikan keinginan seninya. namun apa jadinya jika mewarnai dilakukan secara berkelompok? hal itulah yang kemarin (11/12) diikuti oleh puluhan siswa SDII Al Abidin Surakarta dalam Class Meeting untuk mengisi acara jeda akhir semester gasal. bertepat di aula lantai 3 gedung 1, tiap kelompok yang terdiri masing-masing 3 peserta asyik mewarnai gambar yang ukurannya juga jumbo, seukuran kertas A3. sebagian kelompok tampak antusias mewarnai gambar yang sudah disediakan oleh panitia, namun beberapa diantaranya tampak kesulitan dan saling debat.

Choirul Anwar Al, S.Pd, Waka Kesiswaan dan juga koordinator kegiatan menyatakan mewarnai dengan konsep unik ini selain untuk mewadahi ekpresi seni siswa juga dimaksudkan untuk meningkatkan beberapa aspek karakter diantaranya kerjasama, menghargai pendapat, serta kemampuan negosiasi.

POP SDII Al Abidin

10 Desember 2015 Written by

Dalam rangka menjamin terlaksananya pendidikan karakter di SDII Al Abidin, diluncurkan empat macam POP (police of piety ) semacam petugas patroli oleh siswa untuk bidang ketertiban, penghijauan, kebersihan, dan lalu lintas, Selasa (8/12), di halaman sekolah setempat

Bertempat di Masjid Aml Amir Syariah, SDII Al Abidin, puluhan orang tua siswa yang tergabung dalam APEC (Al Abidin Parenting Education Community) mengikuti diskusi parenting dengan tema “Agar anak tidak kecanduan Gadget), Sabtu (15/11). Acara yang mendapat anusias peserta ini menghadirkan pembicara Martiani, S.Psi.

Dalam paparannya, pemateri, yang juga sedang menunggu wisuda pasca sarjana ini mengungkapkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika anak sudah mulai menyentuh gadget. Pertama biasakanlah membangun kominikasi dengan anak. Dengan cara ini orang tua bisa masuk dalam dunia anak dan akhirnya bisa lebih mudah memberikan nasehat. Kedua sediakan waktu yang berkualitas dengan anak. Dengan demikian anak tidak mencari pelampiasan kesepian dengan bermain gadget. Ketiga buatlah jadwal harian yang disepakati antara anak dan orang tua. Hal ini untuk mengontrol prioritas apa yang dikerjakan anak.keempat sediakan aktifitas positif misalnya olah raga, tahfidz dan sebagaianya yang sesuai dengan hobi anak. Kelima membuat lingkungan yang mendukung terlaksananya jadwal yang telah dibuat. Terakhir, orang tua boleh memberikan reward saat anak patuh. Sebisa mungkin reward yang diberikan tidak berupa barang. Namun jika anak melanggar, boleh memberikan punishment asal tidak berupa hukuman fisik.

Dalam rangka menyambut tahun baru islam 1437 H, beberapa orang tua alumni siswa SDII Al Abidin yang tergabung dalam Silaturahmi Keluarga Imam Ahmad (SIKIA)  mengadakan pengobatan gratis untuk ratusan warga dusun Tarub, desa Sembungan, kecamatan Nogosari, Boyolali (14/10). Dalam keterangannya, koordinator aksi, dr. Nasirudin Rouf, menyampaikan, selain sebagai bentuk syiar menyambut datangnya tahun baru islam, kegiatan yang diprakarsai oleh anggota SIKIA, dimaksudkan untuk menunjukkan kepedulian terhadap sesama.

Sambutan warga terhadap acara tersebut sangat besar. Sejak pukul 08.00 warga yang akan berobat sudah berdatangan. Satu persatu pasien berkonsultasi dengan dokter dan mendapatkan obat. Proses pengobatan gratis berakhir pada pukul 13.00. Usai pengobatan gratis, anggota SIKIA mengadakan acara ramah tamah yang bertempat di rumah salah seorang warga

Meskipun permainan tradisional memiliki beragam manfaat seperti olah raga, sosialisasi antar teman, menyusun strategi, dan belajar sikap sportif, namun kenyataannya keberadaanya kian terpinggirkan. Posisinya tergantikan oleh beragam alat modern yang cenderung membuat anak menjadi asosial, malas bergerak, dan individualis. Menyadari hal ini para pengajar level 2 SDII Al Abidin berinisiatif untuk mengajak ratusan siswanya mengenal olah raga dan permainan tdalam rangkaian pembukaan tema ketiga yakni “bermain di lingkungan sekitar”, Selasa (15/9) di taman Fakultas Psikologi UMS.

Dengan antusias para peserta mencoba beragam permainan yang telah dipersiapkan diantaranya gobak sodor, betengan, bekelan, bakiak, engklek, benthik, dan kontrakol. Peserta mengakui beberapa permainan, seperti engklek dan bakiak, baru pertama kali mereka mainkan. Sehingga tidak heran jika beberapa peserta mengalami kesulitan bahkan beberapa kali terjatuh, namun itulah kelebihan permainan tradisional yang mengajarkan semangat pantang menyerah. Selain mengajarkan kekompakan dan strategi, ada juga permainan yang mengajarkan keterampilan berhitung yaitu benthik. Dalam permainan ini, peserta yang lemparan kayunya terjauh, maka akan menjadi pemenang. Penentuan jauh dekatnya dihitung menggunakan ukuran kayu.

Meskipun hari makin beranjak siang, namun peserta makin antusias karena, permaian layang-layang telah menanti mereka. Meskipun sempat kesulitan menerbangkan karena anginnya tidak begitu kencang, akan tetapi peserta cukup senang lantaran beberapa layang-layang beraneka bentuk dan warna sempat terbang walaupun tidak begitu lama.

Seorang ibu tampak berurai air mata. Alih alih menghibur, rekan di sebelahnya justru terkekeh melihatnya. Ternyata ibu tersebut menangis karena mengiris bawang merah. Di sudut lain, beberapa ibu sedang bahu membahu menghidupkan kompor gas. Keriuhan yang terjadi di Taman Balekambang, Solo,  Sabtu (29/8) adalah dalam rangka pertemuan orang tua siswa (Parent Gathering) orang tua siswa level 2 SDII Al Abidin.  Hanif, selaku Koordinator acara menjelasnya, acara tersebut dimaksudkan untuk memberikan variasi acara yang berbeda. Kalau biasanya diisi dengan seminar parenting, maka untuk saat ini kegiatannya adalah memasak. “ada tiga menu yang dibuat peserta yaitu nasi goreng, menghias buah, dan minuman berbahan dasar buah”,lanjutnya.

Meskipun baru pertama kali diadakan, namun antusiasme peserta cukup besar. “Ada empat belas kelompok yang ikut lomba hari ini.  Ini kegiatan yang menyenangkan dan mengakrabkan. Kami gak mengejar juara, tapi kebersamaannya yang penting”, demikian komentar bunda Keyla. Meskipun demikian, lomba menghadirkan juri professional, chef Choirul Huda, yang sudah 15 tahun malang melintang di dunia kuliner hotel berbintang, serta berpengalaman menjadi foor tester di berbagai restoral terkenal di Indonesia.