Al Abidin

TKII AL aBIDIN

SDII Al Abidin

SMPI Al Abidin

SMA ABBS Surakarta

S

c

h

o

o

l

s

Contact SDII Al Abidin :(0271) 73503

Dalam rangka menyambut tahun baru islam 1437 H, beberapa orang tua alumni siswa SDII Al Abidin yang tergabung dalam Silaturahmi Keluarga Imam Ahmad (SIKIA)  mengadakan pengobatan gratis untuk ratusan warga dusun Tarub, desa Sembungan, kecamatan Nogosari, Boyolali (14/10). Dalam keterangannya, koordinator aksi, dr. Nasirudin Rouf, menyampaikan, selain sebagai bentuk syiar menyambut datangnya tahun baru islam, kegiatan yang diprakarsai oleh anggota SIKIA, dimaksudkan untuk menunjukkan kepedulian terhadap sesama.

Sambutan warga terhadap acara tersebut sangat besar. Sejak pukul 08.00 warga yang akan berobat sudah berdatangan. Satu persatu pasien berkonsultasi dengan dokter dan mendapatkan obat. Proses pengobatan gratis berakhir pada pukul 13.00. Usai pengobatan gratis, anggota SIKIA mengadakan acara ramah tamah yang bertempat di rumah salah seorang warga

Meskipun permainan tradisional memiliki beragam manfaat seperti olah raga, sosialisasi antar teman, menyusun strategi, dan belajar sikap sportif, namun kenyataannya keberadaanya kian terpinggirkan. Posisinya tergantikan oleh beragam alat modern yang cenderung membuat anak menjadi asosial, malas bergerak, dan individualis. Menyadari hal ini para pengajar level 2 SDII Al Abidin berinisiatif untuk mengajak ratusan siswanya mengenal olah raga dan permainan tdalam rangkaian pembukaan tema ketiga yakni “bermain di lingkungan sekitar”, Selasa (15/9) di taman Fakultas Psikologi UMS.

Dengan antusias para peserta mencoba beragam permainan yang telah dipersiapkan diantaranya gobak sodor, betengan, bekelan, bakiak, engklek, benthik, dan kontrakol. Peserta mengakui beberapa permainan, seperti engklek dan bakiak, baru pertama kali mereka mainkan. Sehingga tidak heran jika beberapa peserta mengalami kesulitan bahkan beberapa kali terjatuh, namun itulah kelebihan permainan tradisional yang mengajarkan semangat pantang menyerah. Selain mengajarkan kekompakan dan strategi, ada juga permainan yang mengajarkan keterampilan berhitung yaitu benthik. Dalam permainan ini, peserta yang lemparan kayunya terjauh, maka akan menjadi pemenang. Penentuan jauh dekatnya dihitung menggunakan ukuran kayu.

Meskipun hari makin beranjak siang, namun peserta makin antusias karena, permaian layang-layang telah menanti mereka. Meskipun sempat kesulitan menerbangkan karena anginnya tidak begitu kencang, akan tetapi peserta cukup senang lantaran beberapa layang-layang beraneka bentuk dan warna sempat terbang walaupun tidak begitu lama.

Seorang ibu tampak berurai air mata. Alih alih menghibur, rekan di sebelahnya justru terkekeh melihatnya. Ternyata ibu tersebut menangis karena mengiris bawang merah. Di sudut lain, beberapa ibu sedang bahu membahu menghidupkan kompor gas. Keriuhan yang terjadi di Taman Balekambang, Solo,  Sabtu (29/8) adalah dalam rangka pertemuan orang tua siswa (Parent Gathering) orang tua siswa level 2 SDII Al Abidin.  Hanif, selaku Koordinator acara menjelasnya, acara tersebut dimaksudkan untuk memberikan variasi acara yang berbeda. Kalau biasanya diisi dengan seminar parenting, maka untuk saat ini kegiatannya adalah memasak. “ada tiga menu yang dibuat peserta yaitu nasi goreng, menghias buah, dan minuman berbahan dasar buah”,lanjutnya.

Meskipun baru pertama kali diadakan, namun antusiasme peserta cukup besar. “Ada empat belas kelompok yang ikut lomba hari ini.  Ini kegiatan yang menyenangkan dan mengakrabkan. Kami gak mengejar juara, tapi kebersamaannya yang penting”, demikian komentar bunda Keyla. Meskipun demikian, lomba menghadirkan juri professional, chef Choirul Huda, yang sudah 15 tahun malang melintang di dunia kuliner hotel berbintang, serta berpengalaman menjadi foor tester di berbagai restoral terkenal di Indonesia.

Bertempat di aula sekolah, ratusan siswa level 3 SDII Al Abidin mengikuti penyuluhan kesehatan yang disampaikan oleh dokter dari Puskesmas Banyuanyar, Kamis (20/8). Dalam paparannya disampaikan tentang pentingnya menjaga kebersihan dengan melakukan aktivitas 3M, yaitu menguras tempat penampungan air, menutupnya, serta mendaur ulang botol atau kaleng bekas, serta menghindari gigitan nyamuk. Selain bertujuan untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat, acara ini juga dimaksudkan untuk membuka tema baru pembelajaran bulan ini yaitu tentang kebersihan.

Setelah mendengarkan paparan dari petugas kesehatan, ratusan siswa level 3 ini kemudian berjalan keliling perumahan di dekat sekolah untuk membagikan stiker yang berisi himbauan untuk melakukan aktivitas 3 M. acara kemudian ditutup dengan membuat kolase dari biji-bijian bertema kebersihan.

Menyambut hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia ke 70 dan dalam rangka pembukaan tema “Indahnya Kebersamaan”, ratusan siswa level IV SDII Al Abidin mengikuti acara parade budaya, yang berupa penampilan busana daerah, makanan khas, dan rumah adat, Kamis (13/8) di sekolah setempat. Indah Kurniawati, koordinator program menyebutkan tujuan  acara tersebut yaitu untuk menanamkan rasa nasionalisme dan mengenalkan keragaman kekayaan Indonesia.

Siswa tampak antusias mengikuti acara karea mereka bisa melihat dan memakai langsung atribut khas dari berbagai daerah. Selain itu siswa juga berkesempatan menampilkan kesenian khas dari berbagai daerah. Beberapa pakaian adat mereka kenakan seperti, Aceh, Minangkabau, Jawa, Dayak, Bali, dan Sulawesi. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa akan memahami dan merasakan betapa beruntungnya menjadi bangsa Indonesia yang meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu.

SD Islam International (SDII ) Al Abidin, meluncurkan ekstrakurikuler (eskul) baru yaitu olah raga memanah. Peluncuran ditandai dengan aksi memanah yang dilakukan kepala SDII Al Abidin, Farida Nuraini, di sekolah setempat, Selasa (11/8).

Ditemui seusai acara, guru koordinator eskul memanah, Kuntadi, mengemukakan diadakannya eskul memanah tersebut selain untuk mengasah bakat dan kompetensi siswa dalam olah raga memanah, sekaligus memperkenalkan kepada mereka tentang sunah Rosul yang diantaranya memiiki keterampilan dalam bidang olah raga memanah, berenang, dan berkuda.

“Memanah ini merupakan sunah Rosul, disamping berenang dan berkuda. Melalui olah raga ini, anak-anak juga diajak untuk sedari kecil untuk cinta sunah Rosul tersebut”, ungkap Kuntadi.

Eskul memanah akan diadakan setiap sepekan sekali, yakni setiap Jum’at. Tercatat ada 40 siswa mulai dari kelas 1 sampai kelas V yang terseleksi mengikuti eskul tersebut. Pelatihan yang diberikan mencakup penggunaan alat yang berupa busur dan anak panah.

“Anak-anak dilatih tidak hanya dari fisiknya tapi juga konsentrasinya untuk menembak sesuai sasaran”, imbuhnya. Setelah beberapa kali pertemuan latihan, lanjutnya, anak-anak akan dievaluasi. Hal ini dimaksudkan untuk mencari bibit-bibit atlet potensial di bidang olah raga memanah.

Kuntadi mengatakan selain pelatihan untuk anak-anak peserta eskul memanah, pelatihan juga akan diadakan untuk para pembimbingnya. Untuk memfasilitasi pelatihan, katanya, peralatan untuk sementara disediakan oleh pihak sekolah.

Disamping itu sekolah juga akan mengadakan sosialisasi lebih lanjut pada orang tua siswa tentang eskul mamanah tersebut.

Ditemui terpisah, kepala bidang (Kabid) Olah raga Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah raga (Disdikpora) Solo, Yusroni, mengapresiasi adanya eskul tersebut. Yusroni berharap dengan adanya eskul tersebut akan muncul bibit-bibit atlet di bidang olah raga memanah di Surakarta. (Sumber : Solopos)